Thursday, May 31, 2012

CERITA SEKS DOKTER NAKAL

CERITA SEKS DOKTER NAKAL

Dokter Davine pemeran utama dalam cerita mesum dewasa panas ini adalah contoh terburuk yang pernah ada dalam karir dunia kedokteran. Memang dalam cerita dewasa panas
apapun bisa terjadi tergantung daya imajinasi para pengarangnya, namun sebagai pembelajaran sex edukasi kita, sosok seperti dokter seperti ini adalah pribadi yang 99,10% tidak layak jadi contoh.

Intro pengwal cerita dokter mesum ini melanjutkan kembali cerita ngewe memek pasien sebelumya dimana hari ini, Elly seorang pasien kandungan berkonsultasi di kediamannya dan otomatisss makin semaunya deh si dokter mesum ini. Wkwkwkwk.. Lanjut gan!
“Dr. Davine orangnya masih muda, ganteng lagi, pantesan banyak pasangan muda yang menjadi pasiennya” kata suamiku ketika dalam perjalanan pulang.
“cara dia menangani pasien begitu tenang, cool gitu, sehingga kita seperti berhadapan dengan seorang teman bukan seorang Dr.” jawabku.
“Senin aku antar lagi deh, lebih sore biar tidak terlalu malam dan terapi-nya tidak terburu buru” tambah suamiku tanpa prasangka

Hari Senin setelah reservasi pagi hari, aku ternyata mendapat nomer terakhir lagi, diminta datang pukul 7 malam di tempat praktek Davine. Tempatnya di lingkungan perumahan yang elit dan asri, suasananya begitu nyaman untuk tempat tinggal, ternyata Andre membuka praktek di paviliun samping rumahnya yang gandeng dengan rumah utama. Pukul 6:30 malam aku dan suami sudah sampai di tempat praktek, ada 2 pasien yang menunggu di situ, rata rata masih muda, seusia kami. Setelah menunggu lebih dari satu jam
dan tidak ada pasien lainnya lagi, akhirnya suster cantik itu memanggil kami masuk.

Di depan kami berdua Davine begitu berwibawa seperti layaknya seorang Dr..
“bagaimana Pak Darma, apa anda mengikuti petunjuk saya untuk tidak berhubungan paling tidak hingga Kamis depan ?” Tanya Dr. Davine
“ya bagaimana lagi dok, kalau ingin berhasil kita ikutin anjuran Dr. saja” jawab suamiku seperti pasrah, sebenarnya nggak tega juga aku melihat expresi wajahnya.
“kali ini mungkin tidak selama yang pertama, paling lama satu jam, Pak Darma boleh tunggu di sini atau di luar” kata Davine
“saya tunggu di luar, tempatnya sejuk dan asri, boleh saya Tanya dok ?” kata suamiku
“silahkan”
“kenapa suami tidak boleh menemani istri untuk konsultasi”
“banyak alasan, pertama, biar tidak terlalu banyak pasien kalau suaminya tidak setuju, sebagai upaya pembatasan pasien secara halus, kalau nggak gitu bisa tiap hari saya selesai praktek jam 12 malam. Kedua, saya tentu akan merasa canggung bila memeriksa si istri sementara sang suami melototi kerja saya. Ketiga belum saatnya, setelah periksa istri dan ternyata tidak ada masalah maka mungkin masalahnya ada di suami, baru saya akan periksa suaminya, itulah metode pengobatan saya” jawab Davine
“oke dok, aku tunggu di luar saja” kata suamiku langsung keluar meninggalkan aku berdua dengan Davine.

Sepeninggal suamiku, Davine langsung menarikku di pangkuannya, kami berciuman mesra, tangannya langsung meraba ke dadaku diremasnya dengan penuh gairah. Aku mulai mendesis pelan ketika ciumannya sampai di leherku.
“jangan mendesah disini sayang, ntar suamimu dengar” bisiknya, dia sudah berani bilang sayang seperti dulu kala.
“bagaimana dengan suster diluar” tanyaku
“kenapa ” dia tak berani masuk kalau tidak aku panggil”
Tangan Davine dengan terampil membuka resliting di belakang hingga rok-ku langsung melorot ke pingggang, aku sengaja pakai pakaian rok terusan yang simple supaya mudah “dilucuti”, aku membalasnya dengan membuka bajunya dan melemparnya ke meja.
Aku kemudian berdiri, dengan sendirinya rok-ku melorot ke lantai, kini aku hanya mengenakan bra hitam berenda setelan dengan celana dalamku, aku memang berusaha tampil sexy dan menggoda di depan Davine, dan ternyata berhasil, dia memandang dengan seksama ke arahku, menikmati setiap lekuk kemolekan dan keindahan tubuhku.
“kamu sungguh cantik dan sexy” komentarnya, sambil berdiri melepas celananya.
Aku memutar tubuhku seperti layaknya seorang model pakaian dalam, kemudian memulai gerakan erotic seperti penari streaptease, Davine duduk kembali di kursi menikmati tarian erotic-ku sambil meremas remas Kontolnya yang mulai menonjol dari balik celana dalam biru-nya.
Sesekali kugoda dia dengan menempelkan payudara ku di wajahnya lalu menariknya kembali. Perlahan kulorotkan kedua tali bra-ku lalu diikuti melepas bra dari tubuhku dan kulemparkan ke wajah Davine, tampaklah payudara kebanggaanku menggantung indah menantang terpampang di depannya.
Davine menelan ludah, dia berusaha menarikku ke pelukannya tapi aku menghindar menggoda, semakin dia terbakar birahi semakin baik bagiku, aku ingin menggodanya. Sensasi dan rasa erotis di diriku makin naik mengingat bahwa kini aku sedang menari streaptease di depan Davine yang hampir telanjang sementara suamiku menunggu di luar dan istri Davine ada di ruangan sebelah bersama anaknya, sungguh permainan ketegangan yang menggairahkan. Davine sepertinya makin terbakar birahinya, kini dia sudah melepas celana dalamnya dan meremas remas Kontol-nya sambil menikmati tarian erotisku.
Celana dalam satu satunya penutup tubuhku masih menempel indah, tapi Davine sepertinya sudah tidak tahan lagi dengan dorongan birahinya, dia lalu berjongkok di depanku, kakiku kananku dinaikkan ke kursi, dari celah celana dalam dia mulai mencium dan menjilati memek ku yang sudah basah karena begitu terangsang menikmati sensasi ini.....uuuhhh...